Awali Aktivitas Perkantoran setelah Libur Idul Fitri, UIKA Bogor adakan Halal Bihalal 1440 H

Info Kampus

    • 13 Jun 2019
    • 184 Lihat

    Mengawali aktivitas Perkantoran Setelah Libur Panjang Idul fitri 1440 H, Civitas Akademika Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor berkumpul, Hari ini ( 13/06).

    Mereka menghadiri Halal bihalal di Auditorium Prof. Abdullah, SH., Kampus UIKA Bogor, Jalan Sholeh Iskandar (Sholis).

    Rektor UIKA Bogor, Dr. HE. Bahruddin, M.Ag menuturkan halal bihalal ini merupakan agenda yang biasa kita lakukan setelah menyelesaikan Ibadah Puasa dan menyambut Syawal sekaligus memperingati Idul Fitri 1440 H. Sebagai insan yang telah berusaha menempa diri 1 bulan di Ramadhan dan Semoga mendapat ampunan serta ganjaran Fitri dan ketakwaan  dari Allah SWT, maka ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan, yaitu meminta maaf dan saling bermaafan dari khilaf yang disengaja maupun yang tidak disengaja, jika dosa kepada Allah bisa dimaafkan dengan memohon ampun dan bertobat, maka dosa sesama manusia hanya bisa hilang ketika kita saling bermaafan oleh karenanya halal bihalal ini kita selenggarakan sebagai ajang silaturahmi seluruh civitas UIKA yang dihadiri mulai dari Pimpinan Yayasan, Rektorat, Para sesepuh dan Tokoh Kampus, Pimpinan Senat, Dekanat, Dosen, Karyawan, dan Stakeholder Kampus lainnya menghadiri acara ini.

    Hadir sebagai pemberi tausiyah pada halal bihalal 1440 H kali ini, Ketua PP Muhammadiyah ke 14, Prof. H.M Din Syamsuddin, MA. Dalam tausiyahnya Profersor yang memiliki nama lengkap Muhammadi Sirojuddin Syamsuddin tersebut menyampaikan bahwa  Ibadah Ramadhan bukan terminal dari semua ibadah tapi justru awal bagi kita untuk beribadah lebih baik. Semua peribadatan di bulan Ramadhan adalah pelatihan untuk manusia yaitu untuk penyucian diri (self purification) dan penguatan diri (self empowerment). Prof. Din juga memaparkan bahwa Idul Fitri biasanya diakhiri dengan kegiatan silaturahim untuk mempererat ukhuwah. “Merajut ukhuwah artinya merajut persaudaraan, hakekat persaudaraan sejati adalah persaudaraan kemanusiaan berasal dari kesatuan penciptaan yang sama (unity of creation). Manusia sejati tidak terlepas dari kesadaran kemanusiaan, harus membawa keberagamaan yaitu beragama secara manusiawi, keberagamaan yang humanis” Ungkapnya

    Prof. Din juga memesankan agar umat Islam  Indonesia harus introspeksi dalam meningkatkan kualitas. “Ada istilah no longer number count but quality count, kelompok minoritas bisa mengalahkan mayoritas, artinya adalah umat Islam yang merupakan mayoitas di Indonesia bisa tidak bermakna manakala tidak memiliki integritas yang solid. Ukhuwah harus di rajut agar integritas semakin kuat, ketika merajut ukhuwah akhirnya adalah kebersamaan, saling melindungi, saling menguatkan” pungkasnya.

0 Comments

KOTAK KOMENTAR