Lewat Kegiatan Stakeholder Mapping, UIKA Bogor Bahas Keberlangsungan Sungai Ciliwung

Kerjasama

    • 193 Lihat

    Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor bekerja sama dengan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan Alkesa menyelenggarakan pelatihan pemetaan stakeholder pengelolaan Sungai Ciliwung pada Selasa (2/7/2024).

    Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-63 UIKA Bogor, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi berbagai pihak dalam upaya pelestarian dan perbaikan kualitas lingkungan Sungai Ciliwung.

    Pelatihan ini dilaksanakan di Saung Alkesa, tepi Sungai Ciliwung, Kelurahan Kedunghalang. Pelatihan ini diikuti perwakilan dari berbagai instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, komunitas masyarakat, akademisi, serta sektor swasta.

    Kolaborasi antara berbagai stakeholder ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Sungai Ciliwung, seperti pencemaran air, pendangkalan sungai, dan pengelolaan sampah.

    Pelatihan ini menghadirkan narasumber kompeten, Dr. Rimun Wibowo, Dosen Program Studi Sains/Ilmu Lingkungan, Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor.

    Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi tentang teknik pemetaan partisipatif, analisis stakeholder, serta strategi kolaborasi antarstakeholder.

    Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi kelompok dan simulasi pemetaan, sehingga para peserta dapat langsung mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh.

    Dalam materi Identifikasi dan Analisis Stakeholder, narasumber bersama peserta berhasil memetakan peran stakeholder ke dalam empat kuadran, yaitu:

    Kuadran 1 (subyek): memiliki tingkat kepentingan tinggi tetapi rendah dalam pengaruh. Contohnya, Kementerian KLHK, Kementerian PUPR, lembaga donor, dan media massa.
    Kuadran 2 (key player): tingkat kepentingan dan pengaruhnya tinggi. Contohnya, unit kerja di tingkat provinsi (DKI Jakarta, SDA, Forum DAS, Dinas LH).
    Kuadran 3 (context setter): pengaruh tinggi tetapi tingkat kepentingannya rendah. Contohnya, LSM (KPC, Alkesa, Kaum Telapak, Latin, dll), Dinas PUPR, Disparbud, Dinas LH, perguruan tinggi, PDAM, pelaku lapangan (LPM, Karang Taruna, Pokdarwis, KTD, KWT, dll).
    Kuadran 4 (crowd): pengaruh dan tingkat kepentingannya rendah. Contohnya, mahasiswa, dosen, pelajar, serta warga masyarakat yang menetap di sekitar Sungai Ciliwung.
    Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Inovasi, dan Pengembangan, sekaligus Dosen Program Studi Sains/Ilmu Lingkungan, Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor, Dr. Budi Susetyo, I.r., M.Sc, menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan pemetaan stakeholder ini tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi perlu ada langkah nyata di lapangan.

    Dr. Budi menegaskan bahwa UIKA Bogor siap memfasilitasi pertemuan stakeholder Ciliwung dengan menghadirkan para pihak mulai dari level pusat hingga para pelaku lapangan, agar dapat dirumuskan langkah sistematis dan lebih terukur dalam pengelolaan Sungai Ciliwung.

    Sekretaris Kecamatan Bogor Utara, Rokim Al Hudri, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal yang penting dalam upaya mewujudkan Sungai Ciliwung yang bersih dan sehat.

    "Dengan adanya pemetaan stakeholder yang baik, kami dapat mengidentifikasi peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam pengelolaan Sungai Ciliwung, sehingga upaya pelestarian dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien," ujarnya.

    Salah satu peserta, Parno dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC), mengungkapkan antusiasmenya terhadap pelatihan ini.

    "Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Pelatihan ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya kerja sama dan peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya Sungai Ciliwung," katanya.

    Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menjadi agen perubahan yang aktif dalam menggerakkan masyarakat dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Sungai Ciliwung.

    (Humas/Ne2)