BOGOR – Ketua Senat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.S., mengingatkan mahasiswa baru agar menjadikan iman, ilmu, dan amal sebagai landasan dalam menjalani pendidikan. Kecerdasan, menurutnya, harus diiringi keimanan dan akhlak mulia agar ilmu memberikan manfaat.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Ta’aruf Mahasiswa Baru Kelas Karyawan UIKA Bogor, Sabtu (3/10/2026). Membawakan materi Worldview Islam dan Tradisi Keilmuan Mahasiswa UIKA, Prof. Didin mengajak peserta memahami cara pandang Islam terhadap kehidupan dan ilmu pengetahuan.
“Worldview Islam itu artinya bagaimana Islam memandang sesuatu. Memandang kehidupan. Memandang ilmu. Karena Islam itu agama yang punya perspektif tersendiri,” ujarnya.
Prof. Didin menjelaskan, UIKA yang berdiri pada 1961 digagas oleh para ulama, tokoh masyarakat, kiai, serta pejuang bangsa. Semangat para pendiri tersebut tercermin dalam moto Iman, Ilmu, Amal yang menjadi landasan kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
“Iman menghasilkan kesadaran tauhid, kesadaran beragama. Ilmu menghasilkan kekuatan, kecerdasan. Dan amal melahirkan akhlak yang mulia,” jelasnya.
Ia menegaskan, ketiga nilai tersebut merupakan satu kesatuan. Mahasiswa harus terus mengembangkan pengetahuan dengan tetap menjaga keimanan serta mewujudkannya dalam perilaku dan karya yang bermanfaat.
Dalam sesi interaktif, sejumlah peserta diminta membaca ayat Al-Qur’an dan menjelaskan makna moto UIKA. Prof. Didin mengapresiasi antusiasme mahasiswa sekaligus menekankan pentingnya kemampuan membaca Al-Qur’an bagi seluruh mahasiswa UIKA.
Ia juga mengingatkan peserta untuk meluruskan niat dan menjaga motivasi selama menempuh pendidikan. Tantangan selama masa studi perlu dihadapi dengan ketekunan dan keyakinan, bukan menjadi alasan untuk menyerah.
“Jangan menyerah pada tantangan. Langsung drop out hanya karena satu masalah. Insyaallah ketika kita punya motivasi yang kuat, Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik,” pesannya.
Selain itu, Prof. Didin mengajak mahasiswa membangun kebiasaan membaca dan menulis, serta mengawali kegiatan belajar dengan Al-Fatihah dan basmalah sebagaimana tradisi di UIKA.
Menutup paparannya, ia menekankan bahwa tradisi keilmuan juga menuntut sikap hormat kepada dosen, guru, dan pembimbing akademik. Sikap rendah hati menjadi bagian penting dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.
“Kalian harus menghormati para dosen. Itu syarat mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Saya tidak ingin melihat sarjana yang arogan, sombong, dan takabur. Tidak akan bermanfaat ilmunya,” tegasnya.