BOGOR – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan 5th Economics and Business Conference (EBICON), Kamis (16/7/2026).
Konferensi internasional yang digelar secara hibrida di Auditorium Prof. H. Abdullah Siddiq, S.H., UIKA Bogor dan melalui Zoom Webinar tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kebijakan dari berbagai negara.
Mengusung tema “Digital Innovation and Creative Economy: Building Resilient Businesses in the Age of Disruption”, 5th EBICON membahas bagaimana inovasi digital dan ekonomi kreatif dapat membantu dunia usaha bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Isu tersebut dinilai semakin relevan karena transformasi digital telah mengubah perilaku konsumen, sistem produksi, pemasaran, hingga pola persaingan usaha. Pelaku bisnis, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah, tidak lagi cukup mengandalkan model lama, tetapi dituntut mengembangkan inovasi, memanfaatkan teknologi, serta membangun organisasi yang lebih adaptif.
Dekan FEB UIKA Bogor, Prof. Dr. Hj. Immas Nurhayati, S.E., M.S.M., mengatakan era disrupsi bukan hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang lahirnya model bisnis baru dan kolaborasi lintas disiplin maupun lintas negara.
“Inovasi digital dan penguatan ekonomi kreatif telah menjadi penggerak utama dalam meningkatkan daya saing organisasi, industri, maupun masyarakat. Melalui konferensi ini, kami berharap dapat mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa untuk bertukar ide, mempresentasikan hasil penelitian, memperluas jejaring kolaborasi, serta menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik bisnis,” ungkapnya.
Konferensi dibuka mewakili Rektor UIKA Bogor oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Hj. Maimunah Sa’diyah, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa transformasi digital telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berinteraksi, dan menjalankan bisnis.
Menurutnya, kreativitas, inovasi, dan kepemimpinan adaptif menjadi modal penting untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Perguruan tinggi juga memiliki posisi strategis sebagai pusat inovasi yang menghubungkan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat melalui riset, transfer teknologi, pendidikan kewirausahaan, serta kerja sama internasional.
Sesi utama konferensi menghadirkan Cecep Rukendi, S.Sos., M.B.A., yang membawakan materi bertajuk “National Strategies for Indonesia’s Creative Economy in the Digital Age.” Paparan tersebut menyoroti pentingnya strategi nasional yang mampu mempertemukan potensi ekonomi kreatif Indonesia dengan pemanfaatan teknologi digital dan akses pasar yang lebih luas.
Rangkaian panel internasional kemudian menghadirkan para pakar dari Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Jau-Rong Chen, Ph.D., dari Taiwan membahas Sustainable Digital Innovation for Emerging Economies, khususnya mengenai pentingnya inovasi digital yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan.
Dari Filipina, Prof. Dr. Felina C. Young mengulas Strategic Management for Business Resilience in the Digital and Creative Economy Era. Materi tersebut menekankan perlunya strategi organisasi yang lincah agar perusahaan mampu membaca perubahan, mengelola risiko, dan mempertahankan daya saing.
Sementara itu, Prof. Dr. Cordelia Mason dari Malaysia menyampaikan materi Industry 4.0 and Smart Business Transformation. Ia membahas bagaimana teknologi industri generasi baru dapat mempercepat transformasi proses bisnis, meningkatkan efisiensi, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Perspektif Indonesia disampaikan oleh Asti Marlina, S.E., M.M.S.I., D.B.A. melalui materi Digital Transformation and MSME Resilience in Indonesia. Pembahasan ini menempatkan UMKM sebagai sektor yang perlu mendapat penguatan teknologi, kemampuan manajerial, dan akses terhadap ekosistem digital agar tetap bertahan di tengah perubahan pasar.
Seluruh panel internasional dipandu oleh Vivi Oktaviani Wulandari, S.E., M.B.A., dosen FEB UIKA Bogor. Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta luring dan daring untuk membahas strategi transformasi bisnis, pengembangan ekonomi kreatif, dan penguatan daya tahan UMKM.
Selain konferensi utama, 5th EBICON juga menghadirkan sesi paralel Call for Papers sebagai ruang bagi akademisi dan peneliti dari berbagai institusi untuk mempresentasikan hasil riset di bidang ekonomi dan bisnis.
Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan rekomendasi, publikasi ilmiah, dan peluang kolaborasi penelitian yang dapat diterapkan dalam pengembangan dunia usaha.
Melalui penyelenggaraan 5th EBICON, FEB UIKA Bogor menegaskan perannya sebagai fakultas yang aktif menghadirkan forum akademik internasional dan merespons perubahan dunia ekonomi secara aktual. Konferensi ini sekaligus memperkuat posisi UIKA Bogor sebagai kampus yang mendorong internasionalisasi, riset kolaboratif, dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri.
Di tengah era disrupsi, pesan utama EBICON 2026 cukup jelas: ketangguhan bisnis tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh keberanian berinovasi, kemampuan memanfaatkan teknologi, dan kesiapan berkolaborasi dalam menghadapi perubahan.