BOGOR – Isu bullying yang kerap dianggap sepele kembali mendapat sorotan serius dalam Seminar Anti-Bullying yang diselenggarakan Mahasiswa Peminatan Promosi Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, pada Jumat (19/6/2026).
Mengusung tema “Cerdas Emosional, Tangguh Hadapi Tantangan: Mengembangkan Life Skill Pelajar Bogor untuk Memutus Rantai Bullying dan Depresi”, kegiatan ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh 238 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kesehatan masyarakat, perwakilan instansi kesehatan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum.
Seminar ini menegaskan bahwa bullying bukan sekadar konflik biasa di lingkungan pergaulan, melainkan persoalan serius yang dapat berdampak langsung pada kesehatan mental, kualitas hidup, hingga masa depan generasi muda. Karena itu, pencegahannya tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, tetapi harus melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, kampus, pemerintah, dan masyarakat secara luas.
Kegiatan dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan laporan ketua pelaksana oleh Yanfa Hasna Sausan, sambutan dari dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Publik sekaligus penanggung jawab kegiatan Andreanda Nasution, S.K.M., M.Kes., serta sambutan Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKES UIKA Bogor, Ratih Fatimah, S.K.M., M.K.M.
Tiga narasumber dihadirkan dalam seminar ini, yakni Ika Lastyaningrum, S.K.M., M.K.M., Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bogor; Adhi Dharmawan Tato, S.KM., M.P.H., Wakil Ketua Forum Komunikasi Kota Bogor; serta Prof. Dr. Lita Sri Andayanti, S.K.M., M.Kes., Wakil Ketua Umum PPKMI. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Asri Masitha Arsyati, S.K.M., M.K.M.
Dalam paparannya, Ika Lastyaningrum menekankan bahwa pencegahan bullying tidak cukup dilakukan melalui imbauan moral semata, tetapi harus dibangun melalui penguatan literasi kesehatan mental dan kolaborasi lintas sektor.
“Pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan kolaborasi keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan masyarakat secara luas,” ujarnya.
Sementara itu, Adhi Dharmawan Tato menyoroti pentingnya program anti-bullying berbasis komunitas untuk menghadirkan ruang aman bagi pelajar. Menurutnya, komunitas memiliki peran strategis dalam membentuk lingkungan sosial yang sehat dan suportif bagi anak dan remaja.
Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Lita Sri Andayanti menjelaskan bahwa bullying dapat diputus jika generasi muda dibekali kecerdasan emosional dan life skill yang memadai. Life skill yang dimaksud bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan mengenali emosi, berkomunikasi secara asertif, menyelesaikan konflik, mengelola stres, serta berani mencari bantuan saat menghadapi masalah.
“Bullying bukan masalah sepele dan tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari pergaulan. Pencegahannya membutuhkan kerja sama semua pihak melalui penguatan kecerdasan emosional, life skill, literasi kesehatan mental, dukungan sosial, dan lingkungan yang aman serta inklusif,” tegasnya.
Dari seminar ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa bullying adalah masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada aspek mental, sosial, dan akademik. Peserta juga diajak memahami bentuk-bentuk bullying, faktor risiko, tanda-tanda korban perundungan, serta strategi pencegahan yang dapat dilakukan baik secara individu maupun kolektif.
Selain itu, seminar juga memperkuat pesan bahwa kecerdasan emosional harus mulai dipandang sebagai keterampilan hidup yang penting bagi pelajar. Kemampuan mengelola emosi, membangun empati, dan menjaga hubungan sosial yang sehat dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas kekerasan.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Banyak peserta menyoroti pengalaman, tantangan, serta kebutuhan akan sistem dukungan yang lebih kuat dalam menangani bullying dan kesehatan mental di lingkungan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Peminatan Promosi Kesehatan UIKA Bogor menunjukkan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu bullying yang masih menjadi persoalan serius di lingkungan sosial dan pendidikan.
Seminar ini sekaligus menegaskan bahwa upaya memutus rantai bullying dan depresi tidak cukup hanya melalui kampanye sesaat, tetapi memerlukan komitmen bersama untuk membangun lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan berpihak pada kesehatan mental generasi muda.