CIREBON – Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor terus memperkuat transformasi pendidikan tinggi berbasis digital melalui kegiatan benchmarking ke Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon itu menjadi langkah strategis UIKA Bogor untuk memperdalam praktik baik penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sekaligus memperkuat sinergi kelembagaan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam kunjungan tersebut, UIKA Bogor diwakili oleh Prof. Dr. Widyasari, M.Pd., Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Inovasi, dan Pengembangan, bersama jajaran terkait. Sementara dari pihak UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, rombongan diterima oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Ayus Ahmad Yusuf, M.Si. dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Prof. Dr. Hajam, M.Ag., bersama sejumlah unit pendukung seperti UPT Pendidikan Jarak Jauh, Lembaga Penjamin Mutu, UPT Admisi dan Promosi, UPT Perpustakaan, serta Pusat Inovasi Pembelajaran Digital.
Benchmarking ini tidak sekadar menjadi ajang kunjungan antar kampus, tetapi forum penting untuk bertukar pengalaman mengenai tata kelola pendidikan digital yang efektif, terukur, dan berkelanjutan. Dalam sesi pemaparan, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon membagikan pengalaman transformasinya sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri berbasis siber pertama di Indonesia, termasuk pengembangan sistem pembelajaran digital, pengelolaan Learning Management System (LMS), layanan akademik berbasis teknologi, dukungan perpustakaan digital, hingga strategi menjaga mutu dalam penyelenggaraan PJJ.
Wakil Rektor I UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Ayus Ahmad Yusuf, menegaskan bahwa keberhasilan PJJ tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan kekuatan tata kelola institusi.
“PJJ bukan sekadar memindahkan pembelajaran ke ruang digital. Yang terpenting adalah bagaimana memastikan kualitas akademik tetap terjaga, mahasiswa memperoleh layanan yang optimal, dan pengalaman belajar tetap bermakna,” ujarnya.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UIKA Bogor dan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kerja sama tersebut diarahkan pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pengembangan PJJ, dengan ruang lingkup meliputi kebijakan dan tata kelola PJJ, pengelolaan LMS, pengembangan bahan ajar digital, monitoring dan evaluasi pembelajaran, penjaminan mutu akademik, dukungan SDM, serta penguatan infrastruktur teknologi informasi.
Prof. Dr. Widyasari, M.Pd. menyampaikan apresiasi atas keterbukaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam berbagi pengalaman dan inovasi kelembagaan. Menurutnya, benchmarking ini memberi banyak pelajaran penting bagi UIKA Bogor dalam merancang pengembangan PJJ yang tidak hanya kuat secara teknologi, tetapi juga solid dari sisi mutu dan layanan.
“Kami memperoleh banyak wawasan dan pengalaman berharga dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Pengelolaan Pembelajaran Jarak Jauh yang terintegrasi, dukungan teknologi yang kuat, serta sinergi antarunit kerja menjadi praktik baik yang sangat inspiratif bagi pengembangan pendidikan tinggi di era digital,” ungkapnya.
Ia menambahkan, transformasi pendidikan tinggi saat ini tidak cukup hanya dengan menyediakan platform digital, melainkan juga menuntut penguatan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari tata kelola, mutu akademik, kesiapan dosen, layanan mahasiswa, hingga keberlanjutan kerja sama.
Sementara itu, Wakil Rektor III UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Hajam, M.Ag., menilai kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital.
“Benchmarking seperti ini bukan hanya menjadi sarana berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Melalui sinergi dan kerja sama yang kuat, kita dapat saling belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia,” ujarnya.
Diskusi dalam kegiatan benchmarking berlangsung interaktif. Tim UIKA Bogor menggali lebih jauh berbagai aspek implementasi PJJ, termasuk model penjaminan mutu, penguatan layanan akademik, peran unit-unit pendukung, hingga strategi menjaga keterlibatan mahasiswa dalam ekosistem pendidikan digital. Hal ini menunjukkan bahwa benchmarking tidak berhenti pada seremoni, tetapi diarahkan menjadi fondasi bagi penguatan transformasi digital di lingkungan UIKA Bogor.
Melalui kegiatan ini, UIKA Bogor kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus yang aktif belajar, berjejaring, dan membangun kolaborasi strategis demi menghadirkan pendidikan tinggi yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing.
Di tengah perubahan lanskap pendidikan yang semakin cepat, benchmarking semacam ini menjadi langkah nyata agar pengembangan PJJ tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar melahirkan sistem pendidikan yang bermutu, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.