BOGOR – Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor terlibat dalam Program Edukasi Iklim dan Pengelolaan Sampah Organik yang menyasar ibu rumah tangga di RT 03/RW 01, Kelurahan Mekarwangi, Minggu (19/7/2026).
Program yang direncanakan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan tersebut menggabungkan edukasi mengenai perubahan iklim, praktik pengolahan sampah organik menggunakan metode Takakura, serta kegiatan monitoring dan evaluasi. Pelaksanaannya melibatkan mahasiswa, pengurus RT dan RW, Pemerintah Kelurahan Mekarwangi, tim program, dan masyarakat setempat.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap persoalan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, yang masih banyak dibuang langsung ke tempat pemrosesan akhir. Padahal, sampah dari sisa sayuran, buah, dan bahan dapur tertentu dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara sampah, kualitas lingkungan, dan perubahan iklim. Selain itu, peserta dibekali kemampuan memilah sampah serta keterampilan praktis membuat kompos secara mandiri.
Ibu rumah tangga dipilih sebagai penerima manfaat utama karena dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan kebiasaan pemilahan dan pengelolaan sampah di tingkat keluarga. Perubahan perilaku dari rumah diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang ke TPA.
Dilaksanakan dalam Tiga Tahap
Program pengelolaan sampah organik di Mekarwangi dilaksanakan melalui tiga tahapan yang saling berkesinambungan.
Tahap pertama berisi edukasi mengenai hubungan antara sampah, lingkungan, dan perubahan iklim. Melalui sesi tersebut, masyarakat diberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Tahap kedua berupa praktik pembuatan kompos menggunakan metode Takakura. Metode tersebut dipilih karena dapat diterapkan pada skala rumah tangga dengan peralatan yang relatif sederhana. Peserta diharapkan mampu membuat dan merawat kompos secara mandiri setelah mengikuti pelatihan.
Sementara itu, tahap ketiga berupa monitoring dan evaluasi untuk mengukur perubahan pengetahuan, keterampilan, dan konsistensi masyarakat dalam mengolah sampah organik.
Program ini menargetkan tingkat ketercapaian sekurang-kurangnya 70 persen. Namun, capaian tersebut akan dinilai melalui indikator yang objektif, seperti perubahan pengetahuan peserta, keterampilan membuat kompos, serta jumlah rumah tangga yang menerapkan metode Takakura, bukan hanya berdasarkan antusiasme selama kegiatan.
Sampah Organik Diubah Menjadi Sumber Daya
Dalam pelatihan, masyarakat diperkenalkan pada pandangan bahwa sampah organik tidak harus selalu menjadi masalah. Dengan teknologi pengomposan yang tepat, sampah dapat diubah menjadi sumber daya yang berguna bagi tanaman pekarangan maupun tanaman dalam pot.
Kompos yang dihasilkan juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Karena itu, kegiatan ini diarahkan bukan sekadar sebagai pelatihan satu kali, melainkan menjadi program pendampingan dan kampanye pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara ibu-ibu PKK, masyarakat, mahasiswa, pemerintah wilayah, dan UIKA Bogor menjadi bagian penting dalam memastikan program dapat memberikan dampak nyata.
Program lanjutan juga diarahkan untuk memperluas edukasi kepada siswa sekolah dan tokoh masyarakat, mendampingi peserta menerapkan metode Takakura di lingkungan masing-masing, serta mengkaji peluang pemanfaatan dan pemasaran produk kompos.
Melalui program ini, Kelurahan Mekarwangi diharapkan dapat berkembang menjadi wilayah percontohan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
Pendampingan secara berkelanjutan diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru dalam mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan. Dari rumah, masyarakat didorong mengambil langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan masa depan.