BOGOR – Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat 2026 yang digelar Program Studi Pendidikan Masyarakat FKIP Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor melahirkan dorongan kuat agar Indonesia memiliki roadmap pendidikan masyarakat 2025–2035 yang lebih terarah, terintegrasi, dan relevan dengan tantangan zaman.
Forum ilmiah yang berlangsung secara daring pada Rabu, 17 Juni 2026 itu tidak hanya menjadi ruang temu akademisi, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai daerah, tetapi juga menghasilkan gagasan strategis bahwa pendidikan masyarakat perlu diposisikan sebagai instrumen penting untuk menekan pengangguran, menguatkan pemberdayaan desa, hingga mendukung pembangunan berkelanjutan.
Sebanyak 436 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas mahasiswa, dosen, pemakalah konferensi, dan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa isu pendidikan masyarakat semakin relevan di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus bergerak cepat.
Dalam forum tersebut, mengemuka satu benang merah: pendidikan masyarakat tidak bisa lagi berjalan sendiri. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga lembaga sosial perlu membangun kolaborasi nyata agar pendidikan nonformal benar-benar mampu menjadi solusi atas persoalan riil di masyarakat.
Wakil Rektor II UIKA Bogor, Dr. Ir. Budi Susetio, M.Sc., yang mewakili Rektor UIKA Bogor, menegaskan bahwa pendidikan masyarakat harus diarahkan menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Melalui seminar dan konferensi nasional ini kami berharap akan lahir gagasan-gagasan inovatif, model praktik terbaik, serta rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat peran pendidikan masyarakat sebagai solusi strategis dalam rangka menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
Salah satu gagasan yang paling menonjol dalam seminar ini adalah perlunya harmonisasi kebijakan pusat dan daerah dalam bidang pendidikan masyarakat. Selama ini, banyak program pemberdayaan berjalan terpisah-pisah, sehingga dampaknya tidak selalu optimal. Karena itu, peserta seminar menilai perlunya desain kebijakan yang lebih terhubung, berbasis data, dan didukung sistem digital yang kuat.
Perwakilan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI melalui Oni Wahyudi, S.P., juga menekankan bahwa masa depan pembangunan desa perlu ditopang oleh tiga pilar utama, yakni desa belajar, desa pengusaha, dan desa kolaboratif. Konsep ini menempatkan pendidikan masyarakat bukan hanya sebagai aktivitas pelatihan, tetapi sebagai pintu masuk untuk melahirkan masyarakat yang produktif, adaptif, dan mandiri.
Dari sisi substansi, seminar ini juga memperluas cakupan pendidikan masyarakat ke isu-isu yang lebih strategis, seperti manajemen risiko bencana berbasis komunitas, edupreneurship, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Dengan demikian, pendidikan masyarakat dipandang bukan sekadar instrumen pembelajaran, tetapi juga bagian dari strategi ketahanan sosial.
Konferensi nasional yang menjadi bagian dari rangkaian acara turut memperkuat arah pembahasan tersebut. Sebanyak 27 pemakalah mempresentasikan hasil riset dari berbagai subtema, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, pengembangan media pendidikan, hingga penanggulangan bencana. Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa inovasi di bidang pendidikan masyarakat terus berkembang, namun membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih luas agar dapat diimplementasikan secara nyata.
Ketua Program Studi Pendidikan Masyarakat FKIP UIKA Bogor, Ani Safitri, M.Pd, dalam sambutannya menekankan bahwa tema seminar dipilih karena selaras dengan tantangan yang saat ini dihadapi Indonesia. Pendidikan masyarakat, menurutnya, harus mampu menjawab kebutuhan lapangan, bukan hanya menjadi wacana akademik.
Sementara itu, seminar pendidikan yang mengangkat tema“Penguatan Ekosistem Pendidikan Masyarakat Berbasis Kolaborasi Multipihak untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” juga memberi pesan penting bahwa transformasi digital harus dimaknai secara cerdas. Teknologi seperti kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu, tetapi tetap harus digunakan secara etis, bijak, dan bertanggung jawab agar memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya.
Dari keseluruhan rangkaian kegiatan, ada pesan yang paling kuat: masa depan pendidikan masyarakat Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama. Bukan hanya perguruan tinggi, tetapi juga pemerintah, komunitas, dan dunia usaha.
Melalui seminar ini, UIKA Bogor tidak hanya menjadi tuan rumah kegiatan akademik, tetapi juga ikut mendorong lahirnya gagasan kebijakan yang relevan bagi masyarakat luas. Posisi ini mempertegas peran UIKA sebagai kampus di Bogor yang aktif membangun pendidikan masyarakat berbasis kolaborasi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat 2026 pada akhirnya tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi pengingat bahwa pendidikan masyarakat masih sangat dibutuhkan Indonesia—bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi juga untuk memberdayakan, memperkuat ketahanan sosial, dan menyiapkan masa depan yang lebih inklusif.