thumb
  • yoga
  • 0 Komentar
  • 94 Melihat
  • 0 Suka

BOGOR – Dunia kerja sedang berubah drastis. Jutaan pekerjaan diprediksi akan hilang, sementara peluang baru justru bermunculan dalam jumlah yang lebih besar. Namun, di tengah perubahan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah lulusan perguruan tinggi benar-benar siap?

 

Hal ini disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., dalam Studium Generale Milad ke-65 Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor pada Senin, 4 Mei 2026, dengan tema “Transformasi Dunia Kerja di Era Digital: Dampak AI, Otomasi, dan Digitalisasi terhadap Lapangan Kerja”.

 

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa perubahan global akibat kecerdasan buatan (AI), otomasi, dan digitalisasi tidak bisa dihindari dan akan membentuk ulang lanskap dunia kerja secara signifikan.

 

Berdasarkan laporan World Economic Forum, diproyeksikan sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang atau tergantikan pada tahun 2030. Namun di sisi lain, akan muncul sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru yang menuntut kompetensi berbeda dari sebelumnya .

 

“Pekerjaan akan selalu ada, bahkan terus bertambah. Tapi persoalannya, apakah talenta kita siap untuk mengisinya?” tegasnya.

 

Ia menambahkan, tantangan utama Indonesia saat ini bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi memastikan kesiapan sumber daya manusia untuk menjawab kebutuhan tersebut.

 

Data menunjukkan bahwa sekitar 86,9% angkatan kerja Indonesia masih berpendidikan maksimal SMA/SMK. Selain itu, lebih dari 55% pekerja masih berada di sektor informal . Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan nyata antara kebutuhan industri dan kesiapan tenaga kerja di lapangan.

 

Di sisi lain, peluang sebenarnya terbuka sangat besar. Pertumbuhan investasi nasional yang mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama 2026 berhasil menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja baru hanya dalam waktu tiga bulan . Namun, peluang tersebut tidak akan optimal tanpa kesiapan talenta yang memadai.

 

Menteri Ketenagakerjaan juga menyoroti bahwa disrupsi dunia kerja didorong oleh tiga kekuatan utama, yaitu perkembangan AI dan digitalisasi, transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, serta perubahan demografi yang mendorong lahirnya ekonomi berbasis layanan manusia.

 

Dalam konteks ini, keterampilan digital menjadi kebutuhan mendesak. Namun faktanya, baru sekitar 27% tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital, jauh tertinggal dibandingkan negara maju yang telah mencapai 60 hingga 76 persen .

 

Tidak hanya itu, tren rekrutmen juga mengalami pergeseran signifikan. Dunia industri kini tidak lagi semata melihat ijazah, tetapi lebih menekankan pada kompetensi nyata yang dimiliki kandidat. Rekrutmen berbasis skill menjadi prioritas utama di berbagai sektor.

 

Menjawab tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya membangun future-ready talent, yaitu talenta yang mampu mengintegrasikan keterampilan digital dengan human skills seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan empati.

 

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan AI yang akan tertinggal,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan growth mindset serta pola pikir kewirausahaan agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang baru di tengah perubahan zaman.

 

Kuliah umum ini menjadi pengingat bahwa masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi oleh kesiapan menghadapi perubahan, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.

 

Melalui kegiatan ini, UIKA Bogor tidak hanya menghadirkan wacana, tetapi juga memperkuat perannya sebagai kampus yang berorientasi pada kesiapan kerja, dengan membekali mahasiswa tidak hanya secara akademik, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.


Bagikan:

Humas UIKA

Jl. KH. Sholeh Iskandar Km.2 Kd. Badak Bogor

Daftar Sekarang